Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

MUKTAMAR SASTRA 2018

MUKTAMAR SASTRA 2018


MENGGALI KENUSANTARAAN MEMBANGUN KEBANGSAAN

MUKTAMAR SASTRA 2018 adalah sebuah ikhtiar. Satu upaya untuk mendorong gerak bangsa ini agar tidak melulu menjadikan politik dan ekonomi sebagai panglima.
Sekali waktu, kebudayaan juga harus maju.
Tampil ke muka untuk mengendurkan tarikan benang kusut kehidupan sosial dan membuka ruang bernafas lebih lega di luar sesi-sesi debat politik yang banal (tak elok).
Kita semua percaya bahwa bangsa ini dibangun dengan tatanan dan ajaran-ajaran baik.
Nilai tentang kerukunan, kerja keras, persatuan, gotong royong, dan sikap tenggang rasa adalah pelajaran utama dari para kiai dan pendiri bangsa.
Muktamar Sastra untuk yang pertama diselenggarakan tahun ini diselenggarakan atas kerjasama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTNNU) Jawa Timur, Lesbumi NU Jawa Timur, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Timur, serta TV9 Nusantara.Turut dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin para kiai dan tokoh budayawan cum sastrawan nasional seperti KH Mustofa Bisri, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, KH D Zawawi Imron, KH Mutawakkil Alallah dan Emha Ainun Nadjib.
“Jikalau hari ini sebagian dari nilai-nilai itu memudar, maka gerakan kebudayaanlah yang diharapkan bisa memulihkan kembali,” ucap sapaan akrab Zawal ini.
“Dengan jalan kebudayaan kita berharap bisa kembali menggali ke-Nusantara-an dan membangun kebangsaan,” imbuhnya.
Muktamar Sastra tahun ini juga akan diikuti oleh 55 sastrawan dari 34 provinsi di Indonesia, 32 sastrawan dari kota/kabupaten penyangga di Jawa Timur, 10 delegasi Lembaga pendidikan, sanggar seni, dan pesantren (RMI NU), peserta peninjau dari media massa, 5 peserta dari negara serumpun, serta puluhan peserta mandiri yang mengirimkan karya dan diseleksi oleh Sosiawan Leak, Mashuri Alhamdulillah, Raedu Basha, Zainul Walid, dan Rosie Jibril sebagai dewan kurator.
Lebih jauh Zawal mengungkapkan, sebagaimana lazimnya forum muktamar, dalam Muktamar Sastra 2018 ini juga diisi dengan diskusi pleno dan panel. Dimana diskusi pleno pertama akan membahas Sejarah dan Khazanah Kesusasteraan Pesantren. Sementara pleno kedua akan membicarakan Pergumulan Kesusasteraan di Indonesia.
“Dua tema besar ini diharapkan dapat memunculkan pemetaan kesusasteraan Nusantara. Paling tidak, dalam dua segmentasi besar, sastra pesantren dan sastra Indonesia non pesantren,” ucapnya.Selain itu, lanjut Zawal, Muktamar Sastra 2018 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi kebudayaan, bagi negara dan khalayak umum.“Rencananya akan dicatat serta diabadikan sebagai Piagam Sukorejo 2018,” tutupnya. 

Sabtu, 27 Oktober 2018

HARI SANTRI NASIONAL 2018

“Resolusi Jihad”Dan“Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila”
 Sumbangsih Kaum Santri untuk NKRI

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dalam memperingati Hari Santri Nasional 2018 dengan mengadakan dua acara besar yaitu Halaqah Nasional “Reaktualisasi Resolusi Jihad NU dalam mempertahankan NKRI” dan penulisan kaligrafi terbesar, “Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila”, yang masuk dalam rekor MURI.
 Halaqah Nasional diadakan sebagai kajian ilmiah untuk melakukan reaktualisasi semangat Resolusi Jihad.  Kita melakukan kontekstualisasi Resolusi Jihad dengan cara menjaga dan melestarikan keutuhan Indonesia dan moderasi beragama sesuai dengan tantangan zaman. Kalau pada zaman lahirnya Resolusi Jihad, Jihad lebih diarahkan kepada pengertian fisik yaitu jihad melawan penjajah. Namun Jihad pada konteks sekarang lebih cenderung kepada jihad dalam pengertian non fisik, yaitu bersikap sungguh-sungguh dalam mengisi kemerdekaan dan menghadapi ancaman terhadap keutuhan NKRI. Misalnya, ancaman ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dengan menggunakan isu agama.
 Karena itu, Pondok Sukorejo memandang penting untuk mengingatkan kembali “Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila” yang dicetuskan ulama pada Munas NU. Apalagi, Pondok Sukorejo memiliki sejarah sebagai tempat bagi lahirnya Deklarasi tersebut, pada Munas NU tanggal 16 Rabiul Awal 1404/21 Desember 1983.
 Kiai As’ad juga sering mengatakan, agar warga NU berpegang teguh kepada deklarasi tersebut.  NU tidak hanya memutuskan, tidak hanya langsung menerima begitu saja terhadap Pancasila, namun NU menerima Pancasila dengan pertimbangan yang matang serta mendeklarasikannya. Menurut Kiai As’ad, seandainya Pancasila dirusak, NU harus bertanggung jawab. Umat Islam wajib membela Pancasila. Ini sudah mujma'alaih, konsensus ulama!
 Setelah Munas NU 1983 dan Muktamar NU 1984 (keduanya bertempat di Pondok Sukorejo), Kiai As’ad selalu menyosialisasikan “Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila” di berbagai forum pengajian baik yang diadakan pesantren maupun pengurus NU. Kiai As’ad juga mencetak dan memperbanyak deklarasi tersebut, termasuk menempelkan di dinding asrama pesantren.
 Resolusi Jihad sangat penting untuk membangkitkan semangat melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila juga penting untuk menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI. Resolusi Jihad dan Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila merupakan sumbangsih kaum santri untuk NKRI.

Selasa, 23 Oktober 2018

KHAS TAMANAN


” TAHU TAMANAN ”

 MAKANAN KHAS TAMANAN-BONDOWOSO

Sejak dulu Desa Tamanan, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso dikenal sebagai kampung perajin tahu. “Tahu Tamanan”, begitu orang-orang selalu menyebut tahu yang hanya diproduksi secara tradisional di desa Tamanan ini. Bagi masyarakat Indonesia tahu adalah salah satu makanan pokok sehari-hari. Nah, di kecamatan Tamanan, Bondowoso ini merupakan produsen tahu terbesar dan terenak yang telah terjual hampir ke seluruh daerah di Bondowoso bahkan di luar kota Bondowoso. Tahu dari Tamanan ini dikenal memiliki rasa yang sangat ciri khas. Bahkan, di pasaran tahu yang bukan buatan Tamanan sering di klaim tahu Tamanan agar lebih laris. Rasa dari tahu Tamanan ini yang gurih dan enak sudah tidak diragukan.
 Tahu-tahu ini bervariasi, ada tahu mentah yang masih berwarna putih ada pula tahu yang sudah digoreng dan berwarna coklat, ada tahu yang bisa langsung dimakan ada pula tahu yang perlu dimasak untuk memakannya, ada tahu yang yang pejal, ada juga tahu yang dalamnya kerompong atau biasa disebut tahu pong. Harganya pun terjangkau misalnya untuk tahu siap makan kita cukup merogoh kocek 5 rb saja sudah dapat 25 buah untuk yang ukuran sedang, jangan lupa tambahkan garam dan cabe atau sambal maka akan kebih enak untuk dinikmati.
Tahu ini banyak digemari oleh masyarakat sebagai lauk dengan nasi, karena kandungan gizi yang tinggi dibutuhkan oleh tubuh kita. Tahu goreng di setiap daerah berbeda-beda rasanya, rasa tahu yang digemari biasanya gurih dan rasanya pas di lidah. Sedangkan tahu yang belum di goreng bisa diolah menjadi berbagai makanan contohnya crispy tahu, semur tahu, dan juga masih banyak yang lainnya.
“Proses pembuatan tahu ini sangat alami. Tidak menggunakan campuran bahan pengawet apa pun. Proses pembuatan tahu meliputi, yang pertama adalah tahapan perendaman, kedelai direndam dalam sebuah bak perendam yang dibuat dari semen. Tujuannya dari tahapan ini adalah untuk mempermudah proses penggilingan. Proses selanjutnya adalah pencucian kedelai, tujuannya adalah membersihkan biji kedelai dari kotoran supaya tidak mengganggu proses penggilingan. Proses penggilingan dilakukan menggunakan mesin penggiling kedelai, tujuannya untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Setelah ini adalah perebusan yang dilakukan di sebuah bak yang terbuat dari semen yang bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari ketel uap yang ada di bagian belakang lokasi pembuatan tahu yang dialirkan melalui pipa besi. Bahan bakar yang digunakan adalah serbuk kayu. Setelah direbus adalah proses penyaringan dengan menggunakan kain saring , tujuannya adalah memisahkan antara ampas bubur kedelai dengan filtrat putih seperti susu yang akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka sehingga terjadi pemisahan antara lapisan atas dan lapisan bawah/endapan tahu. Proses akhir adalah pencetakan dan pengepresan, cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 1mx1m yang diberi lubang kecil di sekelilingnya. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain sarimg tipis di permukaan cetakan. Setelah proses pencetakan adalah pemotongan tahu, pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur. Setelah ini tahu siap dipasarkan baik dalam bentuk mentah maupun tahu yang sudah digoreng. Setelah digoreng, tahu-tahu itu dipasarkan oleh pedagang di pasar Tamanan dan juga dibawa oleh tenaga kerja bagian penjualan untuk dijual keliling ke daerah Kalisat, Maesan , Jember dan juga daerah lainnya”


halaman terkait  :  HARI SANTRI NASIONAL